Pubertas Menurut Agama
Oleh: Ust. Sufi
Madania Makassar
Definisi Pubertas
kata Puberitas
menurut Monks adalah berasal dari kata puber yaitu pubescere yang artinya
mendapat pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang
menunjukkan perkembangan seksual
Menurut
Root dalam Hurlock, Puberitas merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana
terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.
Sebab Pubertas
} Makanan (makanan yang tidak sehat seperti junk food/makanan
cepat saji yang ada di supermarket, ****mart, ****mart, akan menjadikan seorang
anak cepat dewasa atau dewasa sebelum waktunya. Karena bagaikan tanaman yang
dipupuk)
} Umur (jika memang sudah umurnya, anak itu akan dewasa. Seorang
anak laki-laki/perempuan biasanya sudah timbul bulu, perempuan sudah membesar
organ bagian dada, sudah mimpi berhubungan suami istri, sudah berumur 9 tahun
keatas bagi perempuan dan 14 an bagi laki-laki)
} Tontonan yang tidak mendidik (tontonan TV yang tidak
mendidik seperti sinetron india, sinetron Indonesia, dan di bioskop lainnya
akan menjadikan anak cepat dewasa sebelum waktunya) perlu diketahui, tontonan
di barat yang melegalkan prostitusi dan pasangan sesama jenis pun tontonan TV
mereka tidak sekacau di Indonesia.
} Internet (anak yang tidak didampingi saat memakai
internet bisa terjebak oleh iklan-iklan yang tidak mendidik dan bersifat porno.
Jika sudah terjangkit, ia akan mencari di google atau search engine lainnya fim
haram dan itu bisa membuat anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Jika dibiarkan
dampaknya mereka akan mempunyai perpustakaan dalam memorinya dan hasil akhirnya
ia akan tidak berdosa saat berhubungan dengan saudaranya. Padahal Allah
menyuruh kita membunuh orang yang berani mencampuri atau menyetubuhi saudara
kandungnya)
} pergaulan (pergaulan yang tidak baik bisa berdampak anak
cepat dewasa)
} Didikan orang tua yang kurang tepat (didikan orang tua
yang tidak tepat dan kurang komunikasi, hasilnya akan membuat anak tumbuh
menjadi anak yang tidak baik dan nantinya akan membuatnya cepat dewasa karena
merasa dikarbit oleh orang tuanya agar menjadi yang mereka inginkan bukan
menjadi seperti yang anak itu inginkan sendiri.
Bahaya Pubertas
} Menghayal (bisa ujung-ujungnya onani/masturbasi dan itu
sangat berbahaya bagi pertumbuhannya nanti. Masturbasi bisa mengakibatkan
seorang anak malas menikah karena ia bisa mencari kepuasan dari tangannya)
} Mulai suka lawan jenis (jika tidak direm dengan agama
bisa bahaya)
} Coba mencoba mencoba sesuatu yang baru (yaitu dengan
bergaul pada orang yang tidak tepat dan uukung-ujungnya bisa timbul seks bebas)
} Menonton sesuatu yang dilarang (dalam hal ini adalah
film-film yang dilarang Agama)
} Labil (mudah diombang ambingkan orang lain dan
ujung-ujunganya ke narkoba dan kehidupan bebas)
Cara Menangani Pubertas
Cara
menangani pubertas adalah dengan 2 cara berikut ini:
a. Dengan
cara berdialog
Seperti
kisah seorang pemuda yang berkata kepada Nabi Muhammad bahwa ia ingin berzina.
Pada suatu hari
ada seorang pemuda yang gagah mendatangi Nabi Muhammad S.A.W. Dia berkata
“Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berbuat zina. Para Sahabat r.a yang hadir
disana pun marah mendengar ucapannya. Betapa lancangnya si pemuda meminta
kepada nabi Muhammad agar mengizinkannya berzina.
Namun lihatlah
nasihat yang diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Beliau adalah guru terbaik
sepanjang masa. Dia mendekatkan pemuda itu ke sisinya dan mempersilahkannya
duduk. Kemudian Nabi Muhammad mendekatinya dan berkata “Apakah kau mau ibumu
berzina?” Pemuda itu berkata: “Tidak ya Rasulullah. Aku tidak ingin ibuku
berbuat zina. Aku akan menyerahkan diriku padamu wahai Rasulullah.”
“Demikian pula
halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu
mereka”, jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu.
Dia bersabda:
“Bagaimana kalau adikmu?” Pemuda itu berkata: “Tidak ya Rasulullah.” Rasulullah
s.a.w bersabda “Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada
saudara-saudara perempuan mereka.”
Nabi Muhammad
S.A.W. bersabda “Kalau putrimu?” Pemuda itu bahkan belum menikah. Disini Nabi
Muhammad S.A.W. memberikannya sebuah pengandaian, apakah dia mau jika suatu
hari nanti setelah menikah dan mempunyai anak perempuan, anaknya berzina.
Pemuda itu berkata: “Tidak ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Tidak pula
manusia menyukai hal itu terjadi pada anak-anak perempuan mereka.”
Dia bersabda:
“Kalau bibimu dari sisi ayahmu?” Pemuda itu berkata: “Tidak ya Rasulullah.”
“Bagaimana dengan
bibimu dari sisi ibumu?” Dia berkata: “Tidak juga!” Kemudian Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Tidak pula manusia menyukai hal itu
terjadi pada bibi mereka.”
Maka Rasulullah
meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah
dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.” Lihatlah bagaimana
Nabi Muhammad s.a.w memberi pelajaran dengan lemah lembut namun mengandung
kebijaksanaan yang besar.
(Kisah ini dinukil
dari HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370)
b. Dengan
melakukan tindakan langsung
Seperti Kisah berikut ini
Dalam kisah perjalanan Haji Wada’ Nabi saw dari
Arafah ke Muzdalifah, beliau membonceng Usamah bin Zaid ra. Beliau menginap di
sana sampai pagi. Di pagi harinya beliau meninggalkan Muzdalifah menuju Mina.
Di tengah perjalanan ketika telah melewati lembah
Muhassir, beliau ganti membonceng Al-Fadhl bin Abbas ra (sepupu Rasulullah
saw). Perjalanan dilanjutkan hingga sampai di Mina tempat lempar Jumroh. Beliau
melempar Jumroh.
Selanjutnya beliau pergi ke tempat pemotongan hewan
dan berkata: ini tempat pemotongan hewan dan Mina semuanya adalah tempat
pemotongan.
Kemudian datanglah seorang wanita muda dari
Kha’tsam yang ingin bertanya tentang hukum. Al-Fadhl melihat wanita itu dan
wanita itu pun melihat Al-Fadhl. Wanita itu memang cantik. Kecantikannya Nampak
membuat Al-Fadhl terkesima.
Rasulullah saw memegang tengkuk Al-Fadhl dan
memalingkannya ke arah yang lain.
Wanita Kha’tsam itu bertanya: Ayahku sudah sangat
tua, sementara ia harus menunaikan kewajiban Haji, apakah boleh saya
menghajikannya?
Rasulullah saw menjawab: Ya, lakukan untuk ayahmu.
Abbas, Ayah Al-Fadhl bertanya kepada beliau: Ya
Rasulullah mengapa kau palingkan wajah anak pamanmu?
Rasul menjawab: Aku melihat mereka adalah pemuda
dan pemudi, aku khawatir syaithan masuk di antara mereka berdua. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)