Wednesday, December 16, 2015

Pubertas Menurut Agama dan Solusinya

Pubertas Menurut Agama
Oleh:  Ust. Sufi Madania Makassar
Definisi Pubertas
kata Puberitas menurut Monks adalah berasal dari kata puber yaitu pubescere yang artinya mendapat pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual
Menurut Root dalam Hurlock, Puberitas merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.

Sebab Pubertas
}  Makanan (makanan yang tidak sehat seperti junk food/makanan cepat saji yang ada di supermarket, ****mart, ****mart, akan menjadikan seorang anak cepat dewasa atau dewasa sebelum waktunya. Karena bagaikan tanaman yang dipupuk)
}  Umur (jika memang sudah umurnya, anak itu akan dewasa. Seorang anak laki-laki/perempuan biasanya sudah timbul bulu, perempuan sudah membesar organ bagian dada, sudah mimpi berhubungan suami istri, sudah berumur 9 tahun keatas bagi perempuan dan 14 an bagi laki-laki)
}  Tontonan yang tidak mendidik (tontonan TV yang tidak mendidik seperti sinetron india, sinetron Indonesia, dan di bioskop lainnya akan menjadikan anak cepat dewasa sebelum waktunya) perlu diketahui, tontonan di barat yang melegalkan prostitusi dan pasangan sesama jenis pun tontonan TV mereka tidak sekacau di Indonesia.
}  Internet (anak yang tidak didampingi saat memakai internet bisa terjebak oleh iklan-iklan yang tidak mendidik dan bersifat porno. Jika sudah terjangkit, ia akan mencari di google atau search engine lainnya fim haram dan itu bisa membuat anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Jika dibiarkan dampaknya mereka akan mempunyai perpustakaan dalam memorinya dan hasil akhirnya ia akan tidak berdosa saat berhubungan dengan saudaranya. Padahal Allah menyuruh kita membunuh orang yang berani mencampuri atau menyetubuhi saudara kandungnya)
}  pergaulan (pergaulan yang tidak baik bisa berdampak anak cepat dewasa)
}  Didikan orang tua yang kurang tepat (didikan orang tua yang tidak tepat dan kurang komunikasi, hasilnya akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang tidak baik dan nantinya akan membuatnya cepat dewasa karena merasa dikarbit oleh orang tuanya agar menjadi yang mereka inginkan bukan menjadi seperti yang anak itu inginkan sendiri.

Bahaya Pubertas
}  Menghayal (bisa ujung-ujungnya onani/masturbasi dan itu sangat berbahaya bagi pertumbuhannya nanti. Masturbasi bisa mengakibatkan seorang anak malas menikah karena ia bisa mencari kepuasan dari tangannya)
}  Mulai suka lawan jenis (jika tidak direm dengan agama bisa bahaya)
}  Coba mencoba mencoba sesuatu yang baru (yaitu dengan bergaul pada orang yang tidak tepat dan uukung-ujungnya bisa timbul seks bebas)
}  Menonton sesuatu yang dilarang (dalam hal ini adalah film-film yang dilarang Agama)
}  Labil (mudah diombang ambingkan orang lain dan ujung-ujunganya ke narkoba dan kehidupan bebas)

Cara Menangani Pubertas
Cara menangani pubertas adalah dengan 2 cara berikut ini:

a.  Dengan cara berdialog
Seperti kisah seorang pemuda yang berkata kepada Nabi Muhammad bahwa ia ingin berzina.
Pada suatu hari ada seorang pemuda yang gagah mendatangi Nabi Muhammad S.A.W. Dia berkata “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berbuat zina. Para Sahabat r.a yang hadir disana pun marah mendengar ucapannya. Betapa lancangnya si pemuda meminta kepada nabi Muhammad agar mengizinkannya berzina.

Namun lihatlah nasihat yang diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Beliau adalah guru terbaik sepanjang masa. Dia mendekatkan pemuda itu ke sisinya dan mempersilahkannya duduk. Kemudian Nabi Muhammad mendekatinya dan berkata “Apakah kau mau ibumu berzina?” Pemuda itu berkata: “Tidak ya Rasulullah. Aku tidak ingin ibuku berbuat zina. Aku akan menyerahkan diriku padamu wahai Rasulullah.”


“Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka”, jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu.

Dia bersabda: “Bagaimana kalau adikmu?” Pemuda itu berkata: “Tidak ya Rasulullah.” Rasulullah s.a.w bersabda “Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.”

Nabi Muhammad S.A.W. bersabda “Kalau putrimu?” Pemuda itu bahkan belum menikah. Disini Nabi Muhammad S.A.W. memberikannya sebuah pengandaian, apakah dia mau jika suatu hari nanti setelah menikah dan mempunyai anak perempuan, anaknya berzina. Pemuda itu berkata: “Tidak ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada anak-anak perempuan mereka.”

Dia bersabda: “Kalau bibimu dari sisi ayahmu?” Pemuda itu berkata: “Tidak ya Rasulullah.”

“Bagaimana dengan bibimu dari sisi ibumu?” Dia berkata: “Tidak juga!” Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.”

Maka Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.” Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad s.a.w memberi pelajaran dengan lemah lembut namun mengandung kebijaksanaan yang besar.

(Kisah ini dinukil dari HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370)

b.   Dengan melakukan tindakan langsung
Seperti Kisah berikut ini
Dalam kisah perjalanan Haji Wada’ Nabi saw dari Arafah ke Muzdalifah, beliau membonceng Usamah bin Zaid ra. Beliau menginap di sana sampai pagi. Di pagi harinya beliau meninggalkan Muzdalifah menuju Mina.

Di tengah perjalanan ketika telah melewati lembah Muhassir, beliau ganti membonceng Al-Fadhl bin Abbas ra (sepupu Rasulullah saw). Perjalanan dilanjutkan hingga sampai di Mina tempat lempar Jumroh. Beliau melempar Jumroh.

Selanjutnya beliau pergi ke tempat pemotongan hewan dan berkata: ini tempat pemotongan hewan dan Mina semuanya adalah tempat pemotongan.

Kemudian datanglah seorang wanita muda dari Kha’tsam yang ingin bertanya tentang hukum. Al-Fadhl melihat wanita itu dan wanita itu pun melihat Al-Fadhl. Wanita itu memang cantik. Kecantikannya Nampak membuat Al-Fadhl terkesima.

Rasulullah saw memegang tengkuk Al-Fadhl dan memalingkannya ke arah yang lain.

Wanita Kha’tsam itu bertanya: Ayahku sudah sangat tua, sementara ia harus menunaikan kewajiban Haji, apakah boleh saya menghajikannya?

Rasulullah saw menjawab: Ya, lakukan untuk ayahmu.

Abbas, Ayah Al-Fadhl bertanya kepada beliau: Ya Rasulullah mengapa kau palingkan wajah anak pamanmu?

Rasul menjawab: Aku melihat mereka adalah pemuda dan pemudi, aku khawatir syaithan masuk di antara mereka berdua. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)


Tuesday, December 15, 2015

Children Learn What They Live (Anak-anak Belajar dari Kehidupannya)

Children Learn What They Live
(Anak-anak Belajar dari Kehidupannya)
By Dorothy Law Nolte, Ph.D.
Copyright © 1972 by Dorothy Law Nolte


Dorothy Law Nolte, Ph.D adalah seorang pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise. Puisi Dorothy itu muncul pertama kali di koran pada tahun 1954, menjadi sangat terkenal dan direproduksi di mana-mana. Yang paling spektakuler adalah ketika salah satu divisi Abbott Laboratories, Inc., sebuah perusahaan multinasional, mencantumkan puisi itu (serta 10 macam terjemahannya untuk 10 negara tujuan pemasaran yang berbeda) di kemasan produk nutrisi bayi yang terdistribusikan di seluruh dunia tanpa memberi royalti apa-apa kepada penulisnya.
Dalam sejarahnya, puisi ini sempat direvisi dua kali oleh penulisnya yaitu:
a.      Pada awal tahun 1980-an, Dorothy mengubah pronomina dari tunggal menjadi jamak “If a child …” ia ganti menjadi “If children …
b.      Dengan memecah baris tertentu yang terlalu panjang dan kompleks menjadi dua baris serta menambahkan baris baru yang awalnya terdiri dari 14 baris kini menjadi 19 baris.
Pernyataan Dorothy Law Nolte sendiri dalam pengantar bukunya (1998: xiii-ix) itu dapat mengafirmasi kemungkinan ini, yaitu bahwa sebelum ia tambahkan baris terakhir itu, memang sudah ada orang yang menambahkan satu baris terakhir pada puisi itu: “If children live with acceptance and friendship, they learn to find love in the world”. “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Children Learn What They Live

If children live with criticism, they learn to condemn.
Jika anak-anak dibesarkan dengan banyak kritikan, mereka akan belajar menyalahkan

If children live with hostility, they learn to fight.
Jika anak-anak dibesarkan dengan permusuhan, mereka akan belajar berkelahi.

If children live with fear, they learn to be apprehensive.
Jika anak-anak dibesarkan dengan rasa takut (cemoohan), mereka akan belajar rendah diri.

If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
Jika anak-anak dibesarkan dengan banyak dikasihani, mereka akan belajar menyesali diri.

If children live with ridicule, they learn to feel shy.
Jika ana-anak dibesarkan dengan  ejekan, mereka akan belajar menjadi pemalu.

If children live with jealousy, they learn to feel envy.
Jika anak-anak dibesarkan dengan kecemburuan, mereka akan belajar iri hati.

If children live with shame, they learn to feel guilty.
Jika anak-anak dibesarkan dengan dipermalukan, mereka akan belajar merasa bersalah.

If children live with encouragement, they learn confidence.
Jika anak-anak dibesarkan dengan dorongan, mereka akan belajar percaya diri.

If children live with tolerance, they learn patience.
Jika anak-anak dibesarkan dengan toleransi, mereka akan belajar sabar.

If children live with praise, they learn appreciation.
Jika anak-anak dibesarkan dengan banyak dipuji, mereka akan belajar menghargai.

If children live with acceptance, they learn to love.
Jika anak-anak dibesarkan dengan penerimaan, mereka akan belajar mengasihi.

If children live with approval, they learn to like themselves.
Jika anak-anak dibesarkan dengan dukungan, mereka akan belajar menyukai diri sendiri.

If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
     Jika anak-anak dibesarkan dengan pengakuan, mereka akan belajar bahwa mempunyai cita-cita itu baik.

If children live with sharing, they learn generosity.
Jika anak-anak dibesarkan dengan berbagi, mereka akan belajar bermurah hati.

If children live with honesty, they learn truthfulness.
Jika anak-anak dibesarkan dengan kejujuran, mereka akan belajar mengatakan yang sebenarnya.

If children live with fairness, they learn justice.
Jika anak-anak dibesarkan dengan keadilan, mereka akan belajar bersikap adil.

If children live with kindness and consideration, they learn respect.
Jika anak-anak dibesarkan dengan banyak diberikan kemurahan dan pertimbangan, mereka akan belajar menghormati.

If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
Jika anak-anak dibesarkan dengan rasa tenteram, mereka akan percaya kapada diri sendiri maupun orang-orang di sekeliling mereka.

If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.
Jika anak-anak dibesarkan dengan persahabatan, mereka akan belajar bahwa dunia ini tempat tinggal yang menyenangkan.


Oleh: Mr. Sufi Madania Makassar